Apaan sih Ummi? Iya itu lho, masalah sampah!!!
Masalah sampah sudah menjadi biang keladi utama di Jakarta dalam hal banjir, penyakit, dan juga keseimbangan ekosistim yang terganggu gara2 sampah yang tidak diproses secara semestinya.
Maluuuuu banget. Dengar dari beberapa teman orang bule, katanya orang Indonesia itu sering buang sampah sembarangan. Sampai2 ex boss Ummi (yg kebetulan jg orang bule) dulu di perusahaan minyak, pernah bercerita kalau dia sangat prihatin banget sama anak2 kecil Indonesia. Dia bilang kalau dia tuh sering melihat anak2 kecil buang sampah sembarangan, padahal orang tuanya ada disebelahnya, makan dan bermain bersama anak itu. Tapi teteb aja saat selesai makan, bungkusan plastik bekas makannya dibuang begitu saja ke jalan, seakan2 jalanan itu tempat sampah yg ukurannya besar dan berhak dikotori dan disampahi....woooooo.
Terus dia melanjutkan dengan pertanyaan,"Apakah orang tua di Indonesia ini tidak mengajarkan cara membuang sampah pada tempatnya?", sambil mengeryitkan dahi dan mengangkat bahu dia memandangi wajah Ummi.
Ummi hampir gelagapan mendengar pertanyaanya, tapi dengan sigap (padahal sedih banget hati), Ummi jawab,"Well, Alhamdulillaah kalau saya mengajarkan kepada anak saya untuk membuang sampah pada tempatnya. Jadi tidak semua orang Indonesia yang begitu kok Tim" (Tim adalah nama depan ex boss Ummi tadi).
Namun sampai saat ini saudara2, baru saja terjadi 2 minggu lalu, masih segar diingatan. Ummi melihat ada orang melempar bungkusan plastik kresek hitam (isinya pastilah sampah) dari jendela mobilnya dan membuangnya ke jalan raya.
Terlihat dengan jelas yang membuang bungkusan itu arahnya dari jendela belakang sebuah mobil keren bermerk Mercy, berwarna hitam (uuuh Ummi gak sempat mengingat nomor mobilnya), disaat mobil Ummi tepat berada dibelakang mobilnya tatkala membayar uang masuk tol...Astaghfirullaah. Orang punya(maksudnya punya mobil..he..he), lalu berpendidikan (katanya), buang sampah segede bagong ke jalan raya...wataaaaaauuuuu.
Tahu gak, saat di tol, Ummi kebut mobil Ummi untuk menyusul mobilnya dan menengok sekilas ke mobil Mercy itu, maksudnya ingin lihat wajah si pembuang sampah (yg seharusnya menjadi terpidana hukum lho - minimal kalau ketangkap basah pihak berwajib). Tapi sayang kacanya 80% gelap dan gak kelihatan bo!!
Sayang disayang Ummi bukan orang yang berkewajiban menyetop dan mempenalti dgn denda kepada si pembuang sampah sembarangan tadi, jadinya yaa hanya geleng2 kepala aja di mobil (sambil dengerin Tika Pangabean menyanyikan lirik...leng..geleng6x....leng geleng6x..he..he).
Ini sudah melenceng jauh dari judul. Wong tentang sampah RT, malah jadi melebar gituh ceritanya. Okweh, kita mulai ajah, walopun memang masih berhubungan dgn yg namanya sampah.
Nah, kalau kita perduli mulailah dari diri kita sendiri dulu aja kali yaa. Ummi pingin seperti itu. Mulai dari diri sendiri. Daripada berkoar2, tapi gak ada yg mudeng...jadinya yaa puyeng.
Hari Selasa tanggal 4 Maret 2008 lalu, Ummi mengikuti Pelatihan Pengolahan Sampah Rumah Tangga bersama teman2 di "Kebun Karinda".


Kebun Karinda ini milik sepasang suami istri bernama Bpk. Djamaludin Suryohadikusumo dan Ibu Sri Murniati Djamaludin. Beliau berdua sangat perduli sekali dgn kebersihan lingkungan, terutama utk daerah Jakarta. Kata beliau, sampah rumah tangga dari satu rumah itu, tiap harinya bisa membuang sekitar 2kg sampah. Bayangkan kalau dikalikan 100 rumah atau dikalikan seluruh rumah yg ada di Jakarta? Pantesan pak Gub selalu dibikin pusing sama urusan sampah. Nah dari total 60% sampah Rumah Tangga di Jakarta, dan sisanya adalah industri. Hanya sekitar 20an% yang diambil oleh para pemulung utk daur ulang...lah sisanya yg 80% itu bagaimana?
Gambar kiri, pak Djamal sdg memberikan penyuluhan, nah yg kanan itu pesertanya. Ummi mana ya? Lah yg motokan Ummi, jadi gak ada di gambar..he.he.


Urusan pemilahan sampah saja, orang Indonesia masih belajar pada tahap awal. Alhamdulillaah sih sudah mulai. Seperti memilah mana sampah yg organik dan juga yg non organik. Lha, itu mah anak TK juga bisa (kalimat yg sangat trend sekalikan?). Tetapi apakah kita sudah melakukannya di rumah kita sendiri? Jika sudah, Alhamdulillaah lagi. Jika belum, yuk mulai.
Tapi kalau sudah, terus diapakan lagi tuh sampahnya?
Nah, sampah organik yg dihasilkan oleh Rumah Tangga bisa dijadikan kompos alami lho. Bpk dan ibu Djamaludin ini yg memberikan pelatihannya kepada kita.
Kebun Karinda terletak di daerah Lebak Bulus. Dan ada di dalam areal perumahan yang cukup elit. Saat masuk ke gerbang perumahan tersebut, sudah terlihat keasrian, kebersihan dan juga kepeduliaan warganya terhadap sampah di areal tempat tinggal mereka...wuuiih.
Sudah lihat gambar kebun Karinda di ataskan?. Nanti diakhir cerita, Insya Allah ummi akan berikan alamat dan nomor kontak pemilik Kebun ini. Bpk. Djamaludin belum membuat website ttg pelatihan pengolahan sampah ini, karena itu Ummi harus ekstra kerja keras utk menuliskan kembali hasil pelatihannya, karena gak bisa lihat di website. Mudah2an dalam waktu dekat Kebun Karianda ada blog/website-nya yaa, aamin.
Pembuatan Kompos Skala Rumah Tangga ini diperkenalan dengan menggunakan Metoda Takakura (yup, betul ini pasti orang Jepang), huuueeebat. Ide simple ini malah ditemukan duluan oleh orang jepang, lalu orang kita pada kemana?..he.he... kabuuuur...
Bpk Djamaludin mengikuti Pelatihannya langsung dari Takakura-san sendiri pada tahun 2006 di PUSDAKOTA Surabaya. Dan yg membuat pak Djamaludin tertarik utk mengembangkannya karena sistem komposnya menggunakan sistem aerobik (bukan senam lho), sistim aerobik ini artinya pada saat proses pengomposan memerlukan udara segar. Berbeda sekali dgn sistem pembusukan. Sistim ini Takakura ini memakai sistem fermentasi. Prosesnya sangat higienis, lalu hasil komposnya nanti tidak berbau busuk dan juga tidak akan ada belatungnya (menarik sekali bukan?). Secara ibu2 modern sekarang anti dong kalau bikin kompos terus tangan dan badannya jadi bau. Nanti pas suami pulang ke rumah, gimandang? waaa...
Apa saja sih bahan2 yg diperlukan utk pembuatannya:
- Pertama kita memerlukan tempat/wadah pengomposan. Karena ini skala RT, jadi yaa cukup efisien lah, tidak perlu wadah yg super gede. Kita bisa pakai keranjang cucian dari plastik yang berlubang2/dilubangi, sehingga udara segar bisa masuk. Bisa juga tempayan tanah liat (dilubangi juga). Namun tempayan kadang sering pecah. Bisa juga drum/tong sampah dari kalengataupun plastik ukuran sedang dan jgn lupa jg utk dilubangi. Lubangi bukan hanya dibagian samping wadah, tetapi bagian alas bawahpun dilubangi, namun cukup jumlahnya 8 buah lubang utk di bagian bawah wadah, dan ukurannya juga jgn terlalu besar.
Di bawah ini beberapa contoh tempat/wadah utk pengomposan. Semua wadah ini bagian bawah serta samping harus dibolongi. Yg berwana hijau itu punya Ummi dan proses pengomposan ini sdg Ummi kerjakan setiap harinya.


- Kardus bekas Indomie atau Aie Mineral gelas, fugsinya utk menyerap air.
- Lalu jika sudah punya wadahnya, kita persiapkan jaring plastik yang diisi sabut kelapa atau sekam (berbentuk bantalan)/BANTALAN SABUT KELAPA. Ukurannya sebesar wadah yg kita punya dan siapkan 2 buah. Gunanya nanti adalah utk menutup lapisan bawah wadah dan bagian atas wadah. Sekeliling wadah keranjang tersebut dilapisi kardus bekas. Kardus ini berfungsi untuk mengatur kelembaban, menyerap kelebihan air dan juga agar adonan kompos tidak keluar dari lubang keranjang.



- Persiapkan juga biang kompos sebagai bahan aktifator mikroba/bakteri pembuat kompos. Nah, unutk yang ini kita memang musti membeli komposnya dulu, kira2 siapkan sebanyak 3kg. Namun, jangan sampai membeli yang tidak organik. Di Kebun Karianda sendiri tersedia jg. Sayanganya tidak bisa dibeli, tetapi kita bisa barter dgn mengirimkan kumpulan sampah daun RT ke kebun beliau, nanti ditukar dgn seplastik kompos. Bisa juga kalau ikut pelatihannya dengan membayar Rp. 10.000,- per peserta (murah bangetkan?), terus kita boleh membeli seluruh alat untuk keperluan pembuatan kompos, juga nanti mendapatkan Biang komposnya langsung dari pembelian alat tersebut.

- Sendok adukan (spatula besar) diperlukan untuk proses pembuatan dan pengadukan kompos saat penguraian sampah terjadi. Nah, sendok ini juga bisa dibeli satu set di Kebun Karianda.


- Sampah organik Rumah Tangga yang kering. Ini sangat penting. Karena jika kita mencampur lauk pauk seperti daging, udang, tempe/tahu masak bekas kedalam adonan, maka nanti akan terjadi proses pembusukan. Jadi kita pilih lagi sampah organik yang kering. Contohnya, bekas potongan sayur atau buah, bekas potongan rumput/daun yg masih hijau (jgn yg kering) dr halaman, jika bekas sayuran masak bersisa, disarankan agar kuahnya dibuang dulu lalu keringkan sebentar, baru bisa dipakai. Campuran sampahnya harus sampah organik yg lembut2, yaa yg tadi itu. Jika bekas kulit durian, salak ataupun kulit buah yg keras, agak sulit terurai, jadi disarankan jangan. Kenapa harus yg lembut2, karena prosesnya tidak memakai kimia atau bahan2 tambahan tertentu, hanya memakai Biang kompos organik, maka jadilah. IMPORTANT, bahan yg sebaiknya tidak digunakan utk membuat kompos adalah sampah dapur berupa daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju, lemak atau minyak karena akan membusuk dan menimbulkan bau serta belatung...hiiiiii...

- Serbuk kayu bekas gergaji yang halus, jika diperlukan. (Bubuk gergaji ini bisa minta gratisan ke bengkel pengerjaan kayu) atau dedak bekatul (bisa dibeli di pasar burung). Utk apakah bahan yg ini? Baca terus dong....
Contoh serbuk kayu. Bisa di dapatkan secarfa gratisan ke tempat2 tukang kayu. Caranya, yaaa tinggal minta aja..hi..hi.


- Batu bata, kayu atau pot bekas. Gunanya sebagai ganjalan dari wadah. Ditaruh di bagian bawah, agar wadah kompos terangkat dan lubang bagian bawahnya menjadikan sirkulasi udara yg keluar masuk kedalam wadah. Lihat contoh gambar di bawah.

- Terus apalagi yaa? Oh, iya ini adalah tools yg paling penting. Yaitu, "NIAT". Ape' guna bile' tak ade' niat ta'? Begitu katanya..he.he.. Jadi sudah siap???
Cara pembuatannya:
- Wadah utk kompos tadi sekeliling dalamnya ditaruh kardus bekas.
- Lalu, yang paling bawah masukkan bantalan sabut kepala yang pertama dulu
- Kemudian biang kompos 1/2 takaran tampah dimasukkan ke dalam wadah. Ukurannya satu banding satu dgn sisa sayur yg pada hari itu ingin kita buat kompos. Jadi misalnya sisa sayuran, buah di rumah kita hari itu ada 1 tampah, yaa biang komposnya dimasukkan satu tampah juga, namun memasukkannya 1/2 dulu, setengah yg lain belakangan.
- Langkah kedua, potong kecil2 (dicacah) seukuran 2 cm, sampah sayuran, buah, rumput atau daun tadi. Dan masukkan ke dalam wadah merata di atas biang kompos pertama. Kenapa dipotong kecil. Hal ini sangat membantu proses penguraian. Karena bakteri baik yang menguraikan sayuran tadi mjd kompos tidak memerlukan waktu yg lama utk memakannya.
- Langkah ketiga, masukkan kembali sisa biang kompos yang ada, dan ditaburkan merata.
- Masukan bantalan sabut kelapa yang kedua, setelah itu tutup wadahnya. (jgn lupa tutup wadahnya juga harus bolong). Kebetulan tempat wadah yang kami pakai sudah satu set dgn tutupnya. Tempat Loundry ini bisa dibeli di supermarket2 besar di Jakarta.

- Biarkan semalaman, jangan diaduk dulu. Kata Bpk Djamaludin, biarkan bakteri2 pengurainya tidur dulu malam itu..ha.ha. (eeh beneran kok).
- Besok harinya, jika sampah organik RT kita sudah ada lagi, lakukan lagi proses di atas di wadah yg sama, terus menerus di hari2 berikutnya sama juga.
- Namun jangan lupa (ini penting), sebelum memasukkan sampah yang baru, timbunan yg lama di wadah diaduk2 dulu sampai rata ke bawah dgn spatula panjang, baru masukkan sampah baru (bukan kompos seperti hari awal), dan baru tutup lagi dgn kompos banyaknya setara dgn sampah yg baru dimasukkan, dan aduk2 lagi sampai rata baru tutup lagi dgn sabut dan biarkan lagi utk besoknya. Jadi hari kedua dan seterusnya, memasukkan komposnya 1 kali saja (bukan 2 kali), dan jgn lupa diaduk dulu, lalu diaduk merata sampai bawah sebelum ditutup bantalan sabut kelapa. Kenapa harus diaduk rata, karena bakteri pengurai tadi memerlukan udara segar.
- Selama proses penguraian, jika suhu calon bahan kompos di dalam wadah kita perkirakan antara 60-70'C, maka berarti proses penguraian berjalan dgn benar. Jika tidak berarti ada beberapa hal yg perlu diperhatikan, yaitu kemungkinan bahan kompos terlalu basah/berair (biasanya dibarengi bau busuk), jangan dijemur tetapi tambahkan serbuk gergaji/dedak bekatul. Kemudian adonan diaduk merata sampai kebawah. Pengomposan berjalan apabila adonan menjadi panas jika diraba, atau keluar uap air jika diaduk.
- Penambahan dedak bekatul sebagai suplemen akan membuat mikroba/bakteri lebih sehat dan lebih giat mengolah kompos. Insya Allah adonan akan menjadi panas.
- Jika wadah sudah penuh, kita bisa menyiapkan wadah lain yg lebih besar utk proses pematangan. Kalau dirumah tidak memungkinkan mempunyai yg lebih besar, berarti kita siapkan beberapa wadah lain yg seukuran dgn wadah sebelumnya. Hal ini karena wadah timbunan bahan lama yg kita buat harus melalui proses pematangan kira2 selama 40 hari, dan dalam seminggu, minimal adonannya harus kita aduk2 antara 2-3 kali aduk.
- Kompos yg sudah jadi/panen, biasanya jika kita pegang suhunya sudah berubah menjadi seperti suhu tanah (sekitar 30'C). Nah, berarti saatnya panen.
- Kalau ingin hasil yg halus bubuk komposnya, maka kita bisa ayak kompos tadi dgn ayakan sedang (bisa dibeli di toko material, biasanya utk ayakan semen gituh). Sisa yg kasarnya jangan dibuang, karena bisa kita gunakan lagi utk "Biang Kompos" sebagai aktivator keranjang Takakura.
- Kompos yg sudah jadi ini bisa langsung kita gunakan utk memupuki areal pepohonan di halaman kita, dan juga bisa kita jual lho. Utk harga jualnya, coba survey dulu kali. Karena harga bersaing. Bahkan kita bisa bagikan kepada tetangga dgn iming2 tukerkan sampah organiknya dgn kompos organik...iiii serukan. Terus jangan dipakai atau dijual semua, karena sebagian kita gunakan lagi utk "Biang Kompos" (ingatkan uraian di atas tadi?).
- Jangan lupa sebarkan ilmu kita kepada keluarga besar, tetangga dan teman2, agar Jakarta semakin berkurang sampah RT-nya dan kita membantu lingkungan, otomatis membantu juga pemerintahkan?
Kualitas kompos yang baik adalah:
- Tidak berbau busuk, tetapi berbau tanah
- Warna kehitaman, berbentuk butiran seperti tanah
- Suhu sama dgn suhu tanah
- Jika dimasukkan kedalam air seluruhnya akan tenggelam, warna air di atasnya tetap bening. Jika sebagian besar mengambang, berarti ada bahan yg tidak menjadi kompos (misalnya dari pembakaran sampah). Jika airnya keruh, berarti mengandung air lindi dari pembusukan sampah.
- Jika digunakan utk pupuk tanaman, maka tanaman mjd lebih subur dan tidan tumbuh tanaman liar (gulma).
- Mikroba/bakteri pengurai utk bahan kompos itu memerlukan makanan yaitu dari sampah sayuran, buah2an dan juga daun hijau tadi. Lalu ia jg membutuhkan air, air didapat dari dalam sayuran, buah2an dan jg daun2an hijau yang didaur tadi. Jadi utk proses sistem Takakura tidak perlu lagi ditambahkan air. Terakhir ia memerlukan udara, karena itu wadahnya bolong2 dan jg saat proses berjalan, harus sering diaduk2, agar mikroba/bakterinya tadi bisa bernapas dan mendapakan udara baru.
KEBUN KARINDA
Bumi Karang Indah Block C-2 No. 28 Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Tel. +62 21 759 09167
Fax.+62 21 759 09168
HP. +62 815 80 14375
Email: djamaludinsuryo@yahoo.com
Website: maaf belum ada
Bumi Karang Indah Block C-2 No. 28 Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Tel. +62 21 759 09167
Fax.+62 21 759 09168
HP. +62 815 80 14375
Email: djamaludinsuryo@yahoo.com
Website: maaf belum ada
Contact person: Bpk. Djamaludin Suryohadikusumo & Ibu Sri Murnia Djamaludin
(Catatan: bisa juga ikutan milis beliau di Yahoo, jika teman2 banyak pertanyaan)
(Catatan: bisa juga ikutan milis beliau di Yahoo, jika teman2 banyak pertanyaan)
Note: Alhamdulillaah akhirnya selesai juga, karena ini postingan terpanjang abad ini..he.he.. Pesan utk Pak Djamal, "Pak Djamal, jika ada kesalahan dan kekurangan dalam penjelasan Ummi ini dan pak Djamal sempat mampir ke blog Ummi, silahkan di ralat dan dibetulkan atau ditambahkan yaa pak?." Terima kasih juga atas ilmu yg telah bapak berikan kepada kami.






