Ujug-ujug langsung postingnya 'to the point saja', kalau sempat baca cerita yang lalu, Insya Allah bisa mengerti cerita kali ini.
Gambar bawah paling kiri di ambil sehari setelah mendarat di kota Singa, duduk-duduk di areal ini nyaman banget, di mana lagi kalau bukan di Orchard Road. Hari itu kami baru saja melakukan visit ke dua rumah sakit. Mt. Elizabeth Hospital dan SNEC (Singapore National Eye Centre). Mbah Dien gaya banget deh, masih pakai cengdem. di Mt. E, Mbah Dien melakukan pemeriksaan lanjutan stroke-nya. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan restu bahwa Mbah Dien aman untuk melaksanakan operasi matanya.
Gambar tengah, adalah sesaat sebelum operasi mata kirinya di laksanakan. Setelah check up awal, operasi mata tidak bisa dilakukan bersamaan antara mata kiri dan kanan, karena ada 2 hal yang terjadi pada mata mbah Dien, katarak dan glukoma. Glukoma terjadi akibat tekanan dan beban berat pada mata yang sudah ada kataraknya, lalu dipaksakan terus untuk melihat. Sementara itu, datang stroke tiba-tiba yang di akibatkan penyakit darah tinggi yang memang sudah di idap Mbah Dien dari dahulu. Pecalah pembuluh darah akibat pressure tersebut, nah itulah sebab Glukomanya. Jika di biarkan maka akan mengakibatkan kebutaan.
Paling kanan adalah gambar ruang 'after operation'. Operasi di SNEC kebanyakan tidak memakan waktu lama, bahkan pencangkokan matapun hanya di lakukan kurang dari 1 jam, sementara kasus mbah Dien hanya berlangsung 1 jam kurang. Pun setelah operasi, tidak ada nginep-nginep di Rumah Sakit. Pasien di harapkan langsung pulang dan beristirahat di rumah, tidak di Rumah Sakit. Karena memang tidak diperlukan, hal ini sangat menghemat biaya lho.... Nah setelah operasi, Mbah Dien istirahat selama satu jam sambil makan, karena sebelum operasi mbah Dien menjalankan puasa 8 jam, jadilah setelahnya diberikan makan. Namun setelah itu, kami sudah di usir pulang. Tentu saja setelah obat tetes dan cara merawat mata setelah di operasi sudah dijelaskan dgn jelas oleh pihak RS.
Gambar kiri atas, Mbah Dien sudah berganti baju menuju ke ruang operasi. Tekanan darahnya sempat tinggi, karena deg-degan katanya. Namun saat di tensi lagi setelah operasi, tekanannya sudah turun jauh, karena rasa takut menjelang operasi sudah terganti dengan rasa lega. Jadi bagaimana perasaan Mbah Dien saat sebelum operasi turut mempengaruhi kondisi tekanan darah. Gambar tengah atas, Mbah Dien sedang melahap bubur ayam yang memang dipesannya sebelum masuk ke ruang operasi. Ada berbagai menu yang di tawarkan untuk pasien dan mbah Dien cari aman, dia pilih bubur. Menu makanan saat di Singapore sangat kami perhatikan, karena setelah terkena serangan di Jakarta Juli lalu, otomatis mbah Dien diet ketat. Kami pakai kursi roda sebenarnya untuk hal darurat saja. Karena mata kanan belum di operasi, jadi saat mata kiri ditutup perban...ya udah jadi mbah Dien gak bisa melihat deh, makanya kita pakai kursi roda, biar praktis, jalannya jadi gak usah di tuntun. Dan jadinya mbah Dien juga gak capek.
Alhamdulillah, satu hari setelah operasi kami balik lagi ke SNEC untuk membuka perban, dan atas izin Allah hasil operasinya berjalan dengan sukses, mata kiri mbah Dien sekaranh sudah bisa membedakan lagi mana warna biru dongker dengan warna hitam, tadinya yaa sami mawon. Terus juga tadinya gak bisa baca sama sekali, sekarang sudah dengan lantang mbah Dien membaca setiap kalimat pada majalah yang di sodorkan oleh Suster RS kepadanya. Rasa syukur kehadirat Allah atas segala kesembuhan dan nikmat yang mbah Dien dapatkan kembali.
1 hari terakhir sebelum pulang ke Indonesia, kedua kakak kami bergabung. Mas Hari adalah kakak kandung Mas Indra, suamiku. Beliau datang dari KL-Malaysia bersama istrinya untuk sekalian menengok mbah Dien. Mereka sendiri habis melakukan General Check Up di KL, karena seminggu sebelumnya istri Mas Hari, yaitu Mba Indri baru saja keluar dari RS karena sakit. Paling kiri itu Mas Hari, lalu istrinya, Mbak Indri. Mbah Dien diapit oleh Ummi dan Abinya Fawwaz.
Jarak operasi mata yang satunya lagi adalah satu bulan. Jadi Insya Allah Mbah Dien akan balik lagi ke SNEC tanggal 2 Oktober bulan depan untuk melakukan operasi mata kanannya.
Terima kasih kami haturkan atas kepedulian teman-teman dengan mengirimkan doa untuk Mbah Dien, mudah-mudahan Lebaran nanti, kami sekeluarga bisa mensyukuri pemberian Allah dengan kembalinya pengelihatan kedua mata mbah Dien, Insya Allah, aamiin.
Catatan: Selama di sana kami menginap di Apartemen, akomodasi jadi lebih terjangkau. Dan untuk urusan booking Apartemen, RS dan pencarian dokter, kami memakai agent. Mbak Anna, agent kami adalah orang Indonesia yang sudah bertahun-tahun tinggal di Singapore dan beliau ini khusus membantu banyak pasien dari Indonesia untuk menjalankan pengobatan di Singapore. Jika teman-teman ingin tahu bagaimana prosedur pengobatan di sana dan ingin mendapatkan nomor kontaknya Mbak Anna, silahkan email saja ke kami yaa di indralilli@gmail.com
Namun ternyata, kita bisa melakukan semua itu sendiri kok, tinggal kita cari di Internet semua kebutuhan apartemen dan rumah sakit di Singapore, agent hanya lebih membantu dalam memberi sedikit diskon untuk pembayaran RS-nya karena Mbak Anna ini sudah dikenal sekali oleh dokter-dokter di Singapore, jadi kita bisa mendapatkan keringanan diskon dari harga yang sebenarnya. (Harga-harga pengobatan di Singapore sangat transparan, coba deh mampir ke site di bawah ini).
http://www.moh.gov.sg/corp/index.do (Rumah Sakit Pemerintah di Singapore)
http://www.snec.com.sg/ (Singapore National Eye Centre)
http://www.budgetstaysingapore.com/Apartments/apartments.html (Apartemen di Singapore)















